6 Keunikan yang Ditawarkan Dieng, Negeri Atas Awan

Image result for dieng negeri atas awan

Kilas Wonosobo -  Mengapa disebut negeri di atas awan karena daerah ini berada di ketinggian 2.Dataran Tinggi Dieng, yang banyak orang memanggilnya dengan sebutan “negeri di atas awan”, terletak di wilayah Kabupaten Wonosobo (Dieng Wetan) dan Kabupaten Banjarnegara (Dieng Kulon).000 meter di atas permukaan laut dan sering diselimuti kabut sehingga membuat siapa saja yang berada di daerah tersebut seperti sedang berada di kayangan. Dataran Tinggi Dieng menawarkan banyak keunikan yang sulit ditemukan di tempat-tempat lain di Indonesia.

1. Daratan tinggi terluas kedua yang dihuni manusia setelah Tibet

 Gelar tersebut dirasa pantas diraih Dieng karena memang banyak manusia yang menetap dan membangun kehidupannya di daerah yang tergolong terpencil tersebut.Beberapa artikel menyebut Dataran Tinggi Dieng sebagai Dataran Tinggi (plateau/plato) terluas kedua yang dihuni oleh manusia setelah Tibet.
 Dan sampai sekarang, Dieng menjadi tempat hidup dan menghidupkan ekonomi bagi “wong gunung” tersebut.Dataran tinggi yang terletak di ketinggian 2. Penduduk terdahulu mengubah lahan-lahan yang tadinya tak berpemilik menjadi “tambang emas” mereka dengan menanami kentang, kubis, wortel dan sayuran lainnya.000 meter di atas permukaan laut ini dihuni masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani sayuran dan buah.

2. Ada salju di Dieng. Tidak percaya?

 Cukup datang ke Dieng pada musim kemarau.Bun upas atau butiran salju sering muncul di permukaan tanaman dan ketebalannya bisa sampai 0,5 centimeter lho! Kalau ingin lihat salju, tidak usah jauh-jauh ke Swiss.
.
.
 Suhu rendah di pagi hari memunculkan embun beku atau frost yang oleh penduduk lokal sering disebut sebagai bun upas. Tercatat pada bulan Juli 2015, suhu turun sampai ke angka minus 1 derajat Celcius dan di siang hari bersuhu 10 – 15 derajat Celcius.Pada bulan Juli – Agustus, suhu pagi hari di Dieng bisa sangat rendah.
Karena berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut pastinya membuat suhu di Dataran Tinggi Dieng sangat menusuk tulang. Jika saudara sedang berada di dalam rumah di sana dan kau menginjakkan kakimu di lantai keramik tanpa alas kaki, saudara akan merasa seperti menginjak sebongkah es batu berukuran raksasa.

3. Bocah berambut gimbal itu bukan fans berat Reggae. Mereka bocah Istimewa!

 Bagaimana tidak, rambut gimbal mereka harus dipotong jika si anak sudah menyatakan keinginannya untuk potong rambut.Anak-anak di Dataran Tinggi Dieng yang mempunyai rambut gimbal adalah anak yang tergolong diistimewakan. Jika tidak meminta, tentu saja sangat tidak diperbolehkan. Ketika rambut si anak sudah dipotong, ia akan memiliki rambut normal seperti anak pada umumya.
.
Sekarang, prosesi pemotongan rambut gimbal dilakukan secara massal dan dijadikan atraksi pariwisata karena biaya ritual yang tidak murah. Acara tahunan ini juga menyuguhkan atraksi lain seperti Jazz Atas Awan, pesta bakar jagung, pesta lampion, pagelaran wayang kulit, pameran kesenian dan kerajinan tradisional dan masih banyak yang lainnya. Ruwatan massal anak berambut gimbal ini bisa disaksikan dalam acara tahunan Dieng Culture Festival yang biasanya diselenggarakan pada bulan Agustus oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara.
 Harus ada ritual atau upacara khusus (ruwatan) jika tidak ingin anak tersebut jatuh sakit. Pada pagi hari sebelum ritual, biasanya orang tua akan menanyakan apa saja keinginan anak dan sang orang tua harus bisa memenuhinya. Jika tidak, ritual harus ditunda.Memotong rambut gimbal pun tidak boleh sembarangan.
.
.
 Rambut gimbal mereka tumbuh alami dan dipercaya sudah ada sejak jaman dahulu. Tapi bagi beberapa anak di Dataran Tinggi Dieng, rambut gimbal mereka bukan karena menjadi fans berat musik Reggae.Rambut gimbal atau dreadlock umumnya identik dengan anak Reggae.

4. Desa tertinggi di pulau Jawa ada di Dieng. Desa Sembungan, benar-benar desa di atas awan!


Salah satu keunikan lainnya yang dimiliki oleh Dataran Tinggi Dieng adalah keberadaan desa tertinggi di pulau Jawa. Inilah dia Desa Sembungan. Desa yang terletak di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut dipercaya sebagai cikal bakal dimulainya kehidupan bermasyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Orang-orang terdahulu datang dan menetap di desa tersebut dan kemudian menyebar ke daerah-daerah di sekitar dan membentuk desa-desa baru.
Desa Sembungan kini dihuni sekitar 1.300 jiwa yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayuran dan buah papaya gunung (Carica). Desa ini menjadi sangat indah karena keberadaan sebuah telaga bernama Telaga Cebong yang dikelilingi bukit yang berhiaskan hijaunya areal perkebunan sayuran warga. Akhir-akhir ini, desa ini menjadi sangat terkenal karena menjadi akses utama menuju Gunung Sikunir, spot terbaik untuk melihat golden sunrise di Dieng.
Desa ini tidak terlalu sulit untuk dijangkau, yaitu berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat wisata Dataran Tinggi Dieng. Jalanan yang sudah di aspal cukup baik akan memudahkanmu untuk berkunjung dan bercengkrama dengan para penduduk desa tertinggi yang sangat ramah tersebut.

5. Ada buah yang hanya bisa tumbuh di Dataran Tinggi Dieng dan Pegunungan Andes. Inilah Carica! Buah para Dewa

Banyak orang awam salah menyebut buah ini dengan sebutan “rica-rica”. Yah, memang sedikit mirip sih. Inilah buah Carica, buah yang hanya bisa tumbuh di Dataran Tinggi Dieng dan di Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Carica juga bisa disebut sebagai Pepaya Gunung.
Carica berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Menurut beberapa sumber, buah ini dibawa pada masa menjelang Perang Dunia II oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan berhasil dibudidayakan di Dataran Tinggi Dieng. Banyak orang menyebutnya buah para Dewa karena buah ini hanya bisa tumbuh di ketinggian mulai dari 1.500-3.000 meter di atas permukaan laut. Saking tingginya mungkin para Dewa pun bisa dengan mudah meraihnya.
Buah Carica berbentuk seperti papaya namun berukuran kecil seukuran mangga dan berkulit kuning keemasan. Aroma buah ini sangatlah wangi dan menggiurkan. Daging buah ini jika dimakan mentah akan terasa sepat, tidak seperti buah papaya pada umumnya. Penduduk lokal biasanya mengolah buah ini menjadi manisan dalam botol, keripik, dodol dan sirup. Dan karena rasanya yang lezat, harum, kenyal dan aman dikonsumsi, buah ini banyak diburu oleh wisatawan yang datang ke Dataran Tinggi Dieng. Penasaran rasanya buah “para dewa” ini?

6. Bangga menjadi salah satu daerah penghasil kentang terbesar di Indonesia

Di masa lalu, Dataran Tinggi Dieng merupakan daerah pegunungan berapi yang aktif. Hal ini yang menyebabkan Dataran Tinggi Dieng memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Potensi ini yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dieng untuk bercocok tanam. Salah satu komoditas andalan penduduk Dieng adalah Kentang.
Kualitas Kentang Dieng diakui oleh provinsi-provinsi lain di Indonesia. Kentang-kentang yang berkualitas baik akan dikirim ke daerah lain dan sisanya masuk ke pasar local. Mayoritas masyarakat memilih kentang karena modalnya kecil dan hasilnya bisa berlipat ganda.
Namun, karena banyaknya pembukaan lahan hutan lindung untuk penanaman sayuran dan pemukiman dan juga sistem pertanian dengan menggunakan bahan-bahan tidak ramah lingkungan seperti pestisida dan pupuk buatan menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Banyak terjadi erosi dan bila musim hujan sering terjadi bencana longsor. Kualitas air di daerah tersebut pun menurun. Semoga di masa yang akan datang masyarakat bisa lebih menjaga kondisi alam Dieng agar terhindar dari bencana alam di kemudian hari.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 comments: